Sabtu, 13 August 2022

50 PERSEN EMAS CABOR GULAT KALTIM DISUMBANG ALUMNI SKOI


  • rusmul,
  • 15 Oktober 2021
15.kviews

JAYAPURA-Keberadaan Sekolah Khusus Olahragawan Internasional (SKOI) Kalimantan Timur terus menampakkan hasil pembinaan yang terstruktur dan berjenjang sebagaimana Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) yang dicanangkan Presiden Joko Widodo.

Menurut, H Rudiansyah yang pernah melatih Gulat di SKOI Kaltim,  dua emas atau 50 persen dari jumlah emas dari cabang olahraga (cabor) Gulat  berhasil dipersembahkan dua pegulat alumni sekolah yang awal berdirinya hingga tahun 2019 lalu berada dibawah binaan Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Kaltim itu.  

Zainal Abidin adalah salah satu bukti nyata membangun atlet by design  bukan by accident, setelah mampu meraih medali emas pertama Kaltim di cabor gulat pada nomor gaya Bebas - Kelas s/d 57 Kg Putra.

Putra kelahiran Samarinda ini besar dari SKOI Kaltim dan tercatat sebagai pelajar di sekolah tersebut sejak awal berdirinya tahun 2010 lalu.

Zainal tercatat pernah meraih medali emas dalam Suphanburi Sport School Games (SSSG) 2011 Thailand yang diikuti 22 Sekolah Olahraga se-Asia Tenggara, dimana dirinya turun di kelas bebas 40 kilogram Putra.

Dua tahun berselang di ajang yang sama yang merupakan kompetisi antar sekolah olahraga (SKO) di Kawasan Asia Tenggara tersebut, di Lampang, Kota Chiang Mai Thailand, Zainal mampu membawa pulang medali emas dari kategori U-16 kelas 54 kg.

Pegulat alumni SKOI lain yang menyumbang emas adalah Ashar Ramadhani yang pernah tercatat sebagai pegulat termuda di Asian Games 2018 lau.

Atlet kelahiran 14 Januari 1998 ini telah sukses menembus tim nasional Gulat bersama 5 seniornya seperti Eko Roni Saputra, M Aliansyah, Ardiansyah Darmansyah, Papang Ramadhan, dan Dewi Ulfa kala itu, meskipun dirinya gagal menyumbangkan medali.

Namun talenta atlet jebolan SKOI Kaltim ini setidaknya muncul sebagai kekuatan baru gulat nasional, karena menembus Asian Games merupakan capaian yang prestisius, dimana dalam karirnya dirinya bahkan belum pernah tampil di Pekan Olahraga Nasional (PON).

Emas di PON XX Papua pada nomor Gaya Grego Roman - Kelas s/d 97 Kg Putra, menjadi istimewa karena ini merupakan ajang pertamanya mengikuti pesta olahraga terbesar di Indonesia tersebut.

Tak hanya di sektor putra, pada sektor gulat putri dua atlet skoi menyumbang 1 medlai perak dan 1 medali perunggu.

Pada nomor Gaya Bebas - Kelas s/d 50 Kg Putri, Anissa Safitria, Annisa Safitria lahir di Tenggarong, 6 maret 1999 dan merupakan alumni SKOI Kaltim yang telah menunjukkan talentanya sejak masih bersekolah.

Keikutsertaan pertamanya pada Sport School Games (SSSG) 2013 di  Lampang, Kota Chiang Mai Thailand, Nisa (panggilan akrabnya) turun di kelas 38 kg U-14 dan langsung menyumbang medali emas.

Prestasi ini dipertahankannya saat bertanding di nomor Gulat Bebas (freestyle) Putri kelas 46 kg, dengan menjadi penyumbang medali emas terakhir bagi Kontingen SKOI di Multievent 18th Thailand Sport School Games (TSSC) 2015.

Annisa Safitria menamatkan pendidikan SMA di Sekolah Khusus Olahragawan Internasional atau SKOI Kaltim pada 2017, namun dirinya tetap focus mengikuti program latihan secara berjenjang di Pengprov PGSI Kaltim.

Satu medali perunggu dari Tasya Fatimah melengkapai sumbangsih SKOI di cabor Gulat edisi PON kali ini.

Tasya yang masuk SKOI KAltim tahun 2015 dan lulus tahun 2017 lalu,  pernah tercatat meraih medali emas pada gaya bebas 68 pada perhelatan Kejuaraan Provinsi Gulat tahun 2019 lalu membela Kabupaten Kutai Timur. (rdi/ppiddisporakaltim)